Semua orang pasti akan mati… dan tidak ada yang tahu kapan kematian menjemput.
Ketika duduk di bangku SMA, bapak sering ngajak ngobrol tentang rencana kedepan (yang akhirnya aku sadari bahwa itu adalah sebuah pertanda).
“Nak, setelah lulus SMA kamu cari jurusan D3 dulu yang kira-kira bisa langsung dapat kerja. Kalaupun setelah lulus D3 kemudian kamu mau masuk ke S1, selama Bapak masih sehat dan mampu, kamu bisa lanjutin untuk ke S1”.
Pesan itu disampikan berulang-ulang selama 3 tahun di SMA (dan parahnya aku ngak nyadar-nyadar juga).
Dan pertanda itu nyata, lulus SMA belum lagi masuk ke bangku kuliah. Bapak tercinta meninggal.
Seiring berjalannya waktu, aku sadari (terlepas itu pertanda atau bukan), sesekali kita perlu juga untuk diskusi dengan keluarga (istri & anak) “Rencana Setelah Kematian”
“Rencana Setelah Kematian” ya terdengar horror dan unusual…
Pada dasarnya, yang perlu didiskusikan adalah apa yang mungkin terjadi dan bisa terjadi apabila salah satu pasangan (suami/ istri) meninggal dunia terutama dalam hal menjaga kelangsungan hidup secara ekonomi dan kesejahteraan anak.
Contoh: Pasangan suami istri dengan anak (pertimbangan semakin matang sesuai jumlah anak). Sumber keuangan keluarga hanya dari Ayah, sementara Istri mengurus Rumah tangga.
- Apabila yang meninggal Ayah dulu:
Diskusi 1 : Ibu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga
Diskusi 2 : Ayah ijinkan, ikhlaskan dan mengharuskan Ibu untuk mencari pendamping baru agar
kelangsungan hidup keluarga dapat tetap berjalan (pertimbangkan kondisi anak yang
masih perlu banyak biaya, dll)
masih perlu banyak biaya, dll)
- Apabila yang meninggal Ibu dulu:
Diskusi 1 : Secara ekonomi kemungkinan besar tidak ada masalah karena sumber keuangan ada
dari Ayah
dari Ayah
Diskusi 2 : Ayah tidak harus mencari pendamping baru, tapi sekiranya perlu utarakan hal ini.
Terutama lebih karena kebutuhan biologis (daripada “ngecer” kemana-mana) dan
pertimbangan kebutuhan kasih sayang sosok Ibu dalam suatu keluarga (baik anak
maupun ayah).
Terutama lebih karena kebutuhan biologis (daripada “ngecer” kemana-mana) dan
pertimbangan kebutuhan kasih sayang sosok Ibu dalam suatu keluarga (baik anak
maupun ayah).
Secara garis besar, diskusi “Rencana Setelah Kematian” ini dilakukan agar kelangsungan hidup keluarga yang ditinggalkan dapat terus berjalan. Tidak harus muluk-muluk memang, tapi setidaknya setiap anggota keluarga mempunyai persiapan dan pandangan atas apa yang perlu dilakukan ketika sang sumber keuangan meninggal.
Tidak mudah memang untuk dapat diterima oleh setiap orang, tapi yang perlu diingat, apa yang didiskusikan ini adalah sesuatu yang pasti terjadi dan tidak dapat ditentukan kapan, dimana, dan siapa…
Sebelum diskusi dengan keluarga, Lepaskan ego masing-masing dan Ikhlaskan untuk langkah-langkah yang mungkin sulit diterima (NB: Menikah lagi dengan orang lain, dll)
Would be better to prepared and planned every things in proper ways, especially when you sure it will be happen
Think safety Act safely
Think safety Act safely
Tidak ada komentar:
Posting Komentar